Friday, 8 May 2015

Sentuhan Maya



                 Sentuhan Maya

Dunia masih menghijau, masih banyak
 keindahan diluar sana.
Kalimat itu  yang terus menjelma berbisik dalam hati. Mencoba meyakini bahwa bukan hanya dialah sang bidadari, masih ada enam putri langit yang merajalela. Tapi sayang, sepandai apapun aku membohongi keadaan, rasanya sangat sulit untuk memunafikkan diri. Senyum manisnya masih melekat dalam ingatanku, tiada mimpi tanpa hadirnya. Bagaimana tidak, kejadian tempo hari terus menerjang akal sehatku. Tak henti menyesali kesalahan atas tragedi yang terpotret baik oleh kedua mata kepala.
“Sayang, berjanjilah tak akan menuntut kesetian pada siapapun,  tapi tuntutlah kesetian pada dirimu sendiri.” sambil ia menunjuk dadaku, “tak ada yang lebih baik selain menuntun diri sendiri.” salah satu kalimatnya yang masih terekam jelas dalam memori ingatanku.
“aarrrgghh...” rasanya ingin teriak lepas, memuntahkan segala rasa yang sulit kuuraikan. Untuk apa dan bagaimana diri ini menuntun kesetiaan yang tak lagi bertuan. Pada kenyataannya, kita tak lagi dalam satu masa. Kisah yang dulu ada nan indah, melebur menjadi cerita berbeda.
“Jangan menangis.” katanya tersengah-sengah diucapkan.  Aku memegang erat jemarinya yang pucat dingin dan mengusap butiran air bening hinggap dipipi, “bukankah dulu kita berjanji untuk selalu tegar menghadapi semuanya.” seolah memintahku untuk tetap tabah.
Suasana rumah sakit yang hening terasuk duka, ia terbaring terkulai lemas tak berdaya, menjadi saksi bisu atas kepergian untuk selamanya. Aku menyangkali kalimat terakhirnya, tak bisa kukabulkan. Air mata makin berderai, sangat terlihat jelas akan ketidaktegaranku menghadapi semua. “Mayaa...kamu hanya tertidur kan..? kamu tak akan meninggalkanku, ayo bangun..ayo bangun Maya..!” teriakku tak sanggup menerima.
Dia ada, tapi tak nyata. Aku merasakan ia melihat deretan kata yang terangkai saat ini. Sentuhannya begitu terasa, namun sulit untuk kujelaskan. Jangankan menggenggam jemarinya, bayangannya saja tak nampak. Gila! merindukan seorang kekasih yang berada diakhirat membuatku kehilangan akal. Beribu khayalpun menelesuri, mulai berharap ia kembali dikeheningan malamku sampai dengan menuggu sebuah keajaiban, menantikan detak jarum jam berputar berbalik arah.
Sebulan yang lalu, senyumnya masih memikau saat kuhampiri. Malam kelabu yang sungguh membuatku terkesima, jejeran para bintang senang tiasa berbinar ditengah terangnya sang rembulan. Malaikat seakan berbisik mengenai pertemuaanku dengannya. Ditaman, tempat dimana kami berpaduh kasih, saling memandangi, bergurau, berbagi kisah. Sesekali kami menatap tajam kelangit, menikmati hiasan Tuhan yang ia rangkai dengan cahya gemerlap-gerlipnya. Tetapi tak lama dedaunan mulai beruntuhan, pepohonan yang berjejer kokoh seperti mendapat ujian. Angin berhembus kencang yang tanpa diundang, merusak suasana tak kala memanggil tangisan awan untuk mengguyur kita semua yang berada disekitar taman. Para hias langitpun tak permisi nan berlalu, seketika segalanya menjadi tatapan kosong. Kamipun berlari, mencari tempat berteduh untuk menghindari derasnya butiran hujan. Aku memberinya isyarat dengan menunjuk sebuah gubuk kecil, tempat kami akan bernaung untuk sementara. Belum tiba disana, suara aneh memalingkan pandangan kami. “Kreeeek...kreek...!!” aku mencari sumber suara tersebut disekeliling, “braaakk.” tak disangkah akan tumbangnya pohon menerpah kami berdua. Sesaat itu, aku berusaha bangkit dari dedaunan dan tangkai yang rapuh menutupi setengah badan, dengan rasa sakit nyeri dikepala akibat ranting kayu menghantam, sementara hujan masih setia berlanjut. Mencoba menghelah nafas, mencari sosok kekasih yang hilang ditelan tumbangnya pohon.
“Maya....!!” teriakku memanggil.
Namun tak ada jawabnya melainkan suara pohon yang semakin gemuruh melawan angin disertai hujan lebat, seolah meminta untuk menjatuhkan asa. Aku tertunduk menahan dingin yang merasuk, dengan darah mengalir dikepala. Tiba-tiba suara lemahnya nan halus memanggil. Aku terpojok kaget ketika melihat wajahnya yang pucat tak berdaya, tubuhnya tertindis sebuah pohon. Dengan sisa tenaga, berusaha mengankat pohon tersebut, tak peduli akan sulitnya mengontrol tubuh yang gemetar. Setelah itu, aku membawahnya kegubuk untuk meminta pertolongan.
Seusai pemakaman Maya, aku kembali kerumah sakit untuk dirawat lebih lanjut. Seorang wanita dengan pakaian yang serba putih, serta memakai mahkota putih masuk tersenyum tipis kedalam kamar tempatku dirawat.  Ia menyalurkan segelas air putih beserta obat tiga macam rupa.
“Maya...?” tanyaku. Wajahnya berkerut, seolah tak mengerti. Tanpa pikir, aku memeluknya. Tetapi wanita tersebut malah berusaha melepaskan pelukan hangatku. Sang dokter yang melihat pada saat itu juga mencoba memisahkan kami, ia berusaha meyakini bahwa wanita yang aku rangkul bukanlah Maya melainkan seorang suster. Aku merontah-rontah kesurupan, tak terima dengan kenyataan setelah sadarku kembali. Mungkinkah Maya yang sangat kurindukan tak pernah lagi ada tersenyum mewarnai.? Tak tahan dengan melihat aksiku, bak Serigala yang kesurupan. Sang dokterpun mengambil perannya, menyuntik diri ini hingga jatuh lemah tak berdaya.
Aku terbangun dari tidur yang panjang, entah berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menyadarkan diri, setelah dokter menyuntikku dengan obat biusnya. Dengan berusaha memandang disekeliling yang tampak berbeda begitu aneh, seseorang tertawa keras mengarah padaku, tak lama ia bersedih dan kembali lagi tertawa. Aku menghindar secara perlahan, dan tiba-tiba wanita setengah baya berpakaian compang-camping datang menarik lengan tanganku, ia mengajak untuk menemaninya bermain boneka. “Ahh...dasar gila.” bentakku. Tak lama, aku berlari serta bertanya-tanya, dimana aku berada. Tepat didepan ruangan dokter, aku menghentikan langkah, ruangan ini mengalihkan perhatianku. Sayup-sayup percakapan dokter dengan pengunjung pasien memang tak terdengar jelas, namun sedikit gambaran yang kutangkap, tempat dimana aku dititipkan adalah rumah untuk pemulihan jiwa. Ternyata kerontahan yang kupertontongkan selama ini, sejak perginya sang kekasih menganggapku mungkin telah kehilangan akal.
“Benarkah aku gila..?” tanyaku dalam hati, “tidak mungkin, ini tak mungkin terjadi. yah Tuhan, aku tidak bisa  mengendalikan diri bukan berarti aku tak waras, namun sulitku menerima yang kian meninggalkan dan tak akan pernah kembali, aku hanya butuh waktu untuk mengawali dan bernafas tanpanya.
Aku kembali berlari, menerobos keluar pintu gerbang, tak lagi peduli siapa akan menghalangi. Yang jelasnya aku ingin melepaskan diri dari orang-orang aneh yang berada dirumah tersebut, tak ada pilihan lain selain menyeberang jalan raya dari kendaraan yang berlalu lalang, petugas keamanan yang mengejarpun semakin mendekat.
“Braaaakk..” suara itu yang kudengar, tak lama gelap mengelabuhi menutupi semua pandangan, suara kendaraan kian lama semakin mengecil, sampai semuanya tak terdengar. Yang terlintas diingatku, aku berusaha melewati jalan ditengah-tengah kendaraan. Walhasil, berkat kejadian itu, aku bertemu dengannya. Dia! Maya yang kurindukan selama ini. Masih menebarkan senyum manisnya. Menatapnya dengan penuh keyakinan, memastikan bahwa ini bukanlah sekedar mimpi, bukan pula seorang suster atau wanita lainnya. Dari sekian lama aku menunggu dikeheningan malam, dibalik kunang-kunang yang menertawakan, ia memelukku erat dengan menumpahkan segala rindu tertinggal dalam benak. Aku bersamanya, bersanding dengannya dan bersandar dibatu nisan yang tertulis atas namaku sendiri.

No comments:

Post a Comment