Salah jalan
Aku kesal, serasa kepala meriang, ingin tabokin jidat berkali-kali kebantal, tapi sakitnya belum terasa. Aku coba ketembok, ternyata temboknya...?? temboknya masih utuh, kepalaku yang jadi babak belur, "sial." sakitnya amat terasa.
Sudah sekian kalinya aku dipecundangi oleh adik sendiri, selalu saja keinginannya dituruti kedua orang tua. Sedangkan aku, butuh mikir seratus kali untuk menuruti keinginanku, padahal aku cuma butuh pengertian, pengertian untuk dibelikan mobil, "salahkah..?" pintaku kepada Tuhan. Suatu ketika, tepat ulang tahunku yang ke19, hari yang kunanti terjawab sudah setelah kedua orang tuaku memberikan sebuah kado berbentuk persegi kecil, kuharap kado yang berisi kunci mobil. Hatiku pun berdebar sangat kencang, jemari yang gemetar namun tak sabar membuka kado tersebut. Ahaaa....mataku berkaca-kaca ketika melihat isi dari kado, tanganku makin gemetar, bukan karena terharu bahagia melainkan aku ingin menagis sejadi-jadinya, tapi untuk menutupi umurku yang beranjak dewasa, aku menahan tangis, tangis itu kulampiaskan didalam toilet. "mobil-mobilan." tak terpikir dalam benakku bahwa isi kado tersebut bukanlah sebuah kunci mobil sungguhan, tetapi sebuah mobil-mobilan, ini sungguh menghinaku. "saya benci...saya benci...!!" aku melempar hadiah itu dihadapan ayah dan berlalu pergi ketoilet. aku mengingat betul, kejadian ketika adikku diberikan leptop pada saat ulang tahunnya selang beberapa bulan yang lalu, tidak sama sepertiku. sungguh keadilan tak ingin berpihak kepadaku. Maka pada waktu itu juga, aku memutuskan berinisiatif kabur dari rumah, merantau tepatnya, ketika berhasil nanti akan kutunjukkan kepada Ayah.
Sebelum terbit fajar, aku angkat kaki dari rumah seusai meninggalkan sebuah kertas putih diatas mejah kamarku yang tertulis penuh curhatan hati, sengaja kutujuhkan kepada kedua orang tua agar bisa memahami kepergianku. Dikota tempat untuk diriku memulai lembaran baru, Aku berangkat dengan mobil angkutan beroda empat yang sederhana, tidak untuk Bus yang berAC, ini demi menjaga keuanganku yang menipis. Didalam mobil hanya muat berisikan delapan orang, dua didepan, tiga dikursi tengah dan tiga dibelakang. Aku berada dikursi tengah dan duduk dibagian tengah pula diantara dua orang wanita disebelah kiri kananku, "waww...wanita..?" tapi sayang semuanya genduk dan mungkin sudah berkepala empat, itu yang terlihat dikedua bola mataku. Didalam perjalanan, rasanya ingin muntah, bukan karena sempit dan bau sehingga kepala terasa pening, akan tetapi wanita-wanita tersebut menceritakan pengalamannya diwaktu masih jadi PSK, tak nyangka akan satu mobil dengan bekas pelacur, kerap kali aku dibuainya dipanggil brondong malahan, mereka meminta pin BB, yang ada aku jawab, "cuma nomor togel yang ada, mau..?"
Tepat jam setengah enam subuh aku sampai dikota, entah apa yang harus dilakukan, aku tidak tahu, aku hanya terus berjalan, menyimak keramaian kota. Tak lamah, perutku keroncongan, butuh energi untuk melanjutkan perjalanan yang tak jelas ini, menyantap nasi kuning dipinggir jalan tak seenak dengan makanan dirumah, buatku kembali berpikir balik kerumah. "Tidak." aku harus kuat bertahan, tapi badanku makin lemas, baru jam 10 pagi dikota uangku sudah merosok habis, hanya sebuah handpone yang kumiliki, harta satu-satunya, itupun kalau dijual tak cukup untuk ongkos pulang. Sungguh sesal tiada tara, ide untuk melarikan diri bukan malah menenangkan pikiran tapi membuatku jadi sengsara. BERSAMBUNG..!!
No comments:
Post a Comment