Tuesday, 11 August 2015

COC(Clash Of Clans) sQuad PMA(R111)


COC (Clash Of Clans)
Clan Squad PMA R111
team squad pma
farid
   




 Hay Guysss....!! tahukan Clash Of Clans yang biasa disingkat COC? itu loh..permainan vidio game strategi freemium pada perangkat bergerak yang dikembangkan oleh Supercell. Sebuah game multiplayer online, dimana pemain membangun komunitas, melatih pasukan, menyerang pemain lain untuk mendapatkan emas, elixir dan dark elixir. Membangun pertahanan yang melindungi pemain dari serangan pemain lain, dan untuk melatih serta meningkatkan kemampuan maupun jumlah pasukan.

Gimana masih belum tahu juga? basi lohhh..!!kelaut aja sana..mancing ikan duyung.

Hmmm...bagi pecinta dan memiliki akun game satu ini, yang nonkrong diperangkat layar sentuhnya, dan membuat aplikasi-aplikasi lain pada cemberut karena jarang dibelai, pasti tetap lanjut baca dong.!

Nah! berhubung game ini membangun komunitas juga, saya akan senang hati memperkenalkan sebuah  Clan yang solid, care dan konsisten pada aturan-aturan yang dibentuk dalam melakukan perbaikan penyerangan. Clan yang saat ini menduduki level 6, memiliki jumlah pemain 30 diantaranya: 16 member, 8 elder, 5 co-leader dan tentunya hanya memiliki satu Leader.

       Pernah ngalami War yang tidak beraturan? kacau? tidak keruan? tidak sesuai yang diharapkan? terus sudah gitu kalah lagi! bikin elixir makin menipis tambah lagi yang suka requast minta pasukan level up tanpa ampun. Waw...waww sepertinya anda harus berpaling muka dulu berkunjung di clan satu ini. Clan yang memerhatikan kesejahteraan para membernya dan memberi peluang menjabat bagi yang loyal dan royal pada clan Squad PMA.

Untuk apalagi mikir? silahkan bergabung; ketik COC spasi Squad PMA kirim ke Ayu ting-ting,biar gak salah alamat. Hihihihi...tidak serumit itu kok..!! Teman-teman hanya mengetik "sQuad PMA(R111)" di search clans dari Clan Castle. Bagi yang sudah berpengalaman, berkelana mencari jati diri base di clan-clan lain, pastinya sudah tahu dan biasa dong melakukan ini. Tapi sebelum bergabung ada baiknya membaca terlebih dahulu aturan-aturan Squad PMA.
Adapun aturan-aturan pasal Squad PMA R111 sebagai berikut.

Poin pertama:

¤ Sebelum bergabung diclan Squad PMA R111, terlebih dahulu bergabung di BBM group Squad PMA. Untuk meyakinkan para member baru mengenai aturan-aturan yang berlaku.
¤ Member yang ingin bergabung hanya melalui satu pintu atau izin dari satu orang, yaitu Leader.

Poin kedua:

¤ Untuk semua pemain wajib menyimpan nomor handpone-nya didalam bbm group, gunanya Leader atau Co-leader dan anggota lainnya akan menghubungi pemain yang lupa mengambil jatah War-nya.

Poin ketiga:

¤ Diharapkan bagi setiap pemain, teleti dalam membaca requast-an yang diminta dan selalu royal dalam berdonasi.

Poin keempat:

¤ Bagi pemain yang sudah di kick (menyelah aturan) ataupun pemain yang keluar dengan sendirinya, tidak akan diterima untuk kedua kali. Lebih baik mempertahankan pemain yang loyal, setia dari pada pemain yang mental dan tingkat keraguannya masih labil.

Pasal-Pasal Squad PMA R111
Pasal pertama, masalah tingkah laku.
Sanksi di Kick.
Ayat 1 : Mencela sesama pemain dalam Catting(pemain yang dicela tidak menerima).
Ayat 2 : Pemain melakukan 3 kali dengan sengaja memberi donasi yang tidak sesuai requast-an yang diminta.
Ayat 3 : Selalu berucap tidak sopan/bahasa kotor dalam cattingan( bukan konteks bercanda).

Pasal kedua, War (penyerangan).
Sanksi tidak ikut War berikutnya.
Ayat 1 : Tidak mengambil jatah War yang kedua.
Ayat 2 : Surrender pada saat penyerangan berlangsung.
Ayat 3 : Tidak mengambil War pertama diawal 12 jam berlangsung.
Ayat 4 : Tidak sama sekali mendapatkan bintang dari dua kesempatan dalam menyerang lawan.
Ayat 5 : Pasukan yang dipakai untuk War tidak sinkron atau sesuai dengan pertahanan base lawan.
Ayat 6 : Menyerang tidak sesuai dengan nomor urutan.
Ayat 7 : Penyerangan kedua yang dilakukan sekedar mencari bonus, sedang poin lawan lebih unggul.

Pasal ketiga, Masalah dalam Penyerangan War.
Sanksi Satu minggu tidak diikut sertakan War.
Ayat 1 : Tidak sama sekali mengambil jatah War.


       Demikianlah aturan pasal yang telah dibentuk oleh Squad PMA R111, menjadikan Clan ini lebih unggul, lebih mengenal satu sama lain, lebih kompak, dan saling membantu. Komunitas sesunggunya ialah komunitas yang saling mengerti satu sama lain dan saling menutupi kekurangan masing-masing.
Mungkin setelah anda membaca artikel ini, beranggapan Clan yang sangat disiplin dari tekanan aturan. Sebenarnya tidak! Clan ini berisikan pemain-pemain yang setengah gila, sedikit sinting, separuh waras dengan cattingan-cattingan bervariatif yang buat anda serasa ingin muntah karena menahan tawa. Buueeeeecckkkk!!!!...kwkwkwk.

Friday, 8 May 2015

Sentuhan Maya



                 Sentuhan Maya

Dunia masih menghijau, masih banyak
 keindahan diluar sana.
Kalimat itu  yang terus menjelma berbisik dalam hati. Mencoba meyakini bahwa bukan hanya dialah sang bidadari, masih ada enam putri langit yang merajalela. Tapi sayang, sepandai apapun aku membohongi keadaan, rasanya sangat sulit untuk memunafikkan diri. Senyum manisnya masih melekat dalam ingatanku, tiada mimpi tanpa hadirnya. Bagaimana tidak, kejadian tempo hari terus menerjang akal sehatku. Tak henti menyesali kesalahan atas tragedi yang terpotret baik oleh kedua mata kepala.
“Sayang, berjanjilah tak akan menuntut kesetian pada siapapun,  tapi tuntutlah kesetian pada dirimu sendiri.” sambil ia menunjuk dadaku, “tak ada yang lebih baik selain menuntun diri sendiri.” salah satu kalimatnya yang masih terekam jelas dalam memori ingatanku.
“aarrrgghh...” rasanya ingin teriak lepas, memuntahkan segala rasa yang sulit kuuraikan. Untuk apa dan bagaimana diri ini menuntun kesetiaan yang tak lagi bertuan. Pada kenyataannya, kita tak lagi dalam satu masa. Kisah yang dulu ada nan indah, melebur menjadi cerita berbeda.
“Jangan menangis.” katanya tersengah-sengah diucapkan.  Aku memegang erat jemarinya yang pucat dingin dan mengusap butiran air bening hinggap dipipi, “bukankah dulu kita berjanji untuk selalu tegar menghadapi semuanya.” seolah memintahku untuk tetap tabah.
Suasana rumah sakit yang hening terasuk duka, ia terbaring terkulai lemas tak berdaya, menjadi saksi bisu atas kepergian untuk selamanya. Aku menyangkali kalimat terakhirnya, tak bisa kukabulkan. Air mata makin berderai, sangat terlihat jelas akan ketidaktegaranku menghadapi semua. “Mayaa...kamu hanya tertidur kan..? kamu tak akan meninggalkanku, ayo bangun..ayo bangun Maya..!” teriakku tak sanggup menerima.
Dia ada, tapi tak nyata. Aku merasakan ia melihat deretan kata yang terangkai saat ini. Sentuhannya begitu terasa, namun sulit untuk kujelaskan. Jangankan menggenggam jemarinya, bayangannya saja tak nampak. Gila! merindukan seorang kekasih yang berada diakhirat membuatku kehilangan akal. Beribu khayalpun menelesuri, mulai berharap ia kembali dikeheningan malamku sampai dengan menuggu sebuah keajaiban, menantikan detak jarum jam berputar berbalik arah.
Sebulan yang lalu, senyumnya masih memikau saat kuhampiri. Malam kelabu yang sungguh membuatku terkesima, jejeran para bintang senang tiasa berbinar ditengah terangnya sang rembulan. Malaikat seakan berbisik mengenai pertemuaanku dengannya. Ditaman, tempat dimana kami berpaduh kasih, saling memandangi, bergurau, berbagi kisah. Sesekali kami menatap tajam kelangit, menikmati hiasan Tuhan yang ia rangkai dengan cahya gemerlap-gerlipnya. Tetapi tak lama dedaunan mulai beruntuhan, pepohonan yang berjejer kokoh seperti mendapat ujian. Angin berhembus kencang yang tanpa diundang, merusak suasana tak kala memanggil tangisan awan untuk mengguyur kita semua yang berada disekitar taman. Para hias langitpun tak permisi nan berlalu, seketika segalanya menjadi tatapan kosong. Kamipun berlari, mencari tempat berteduh untuk menghindari derasnya butiran hujan. Aku memberinya isyarat dengan menunjuk sebuah gubuk kecil, tempat kami akan bernaung untuk sementara. Belum tiba disana, suara aneh memalingkan pandangan kami. “Kreeeek...kreek...!!” aku mencari sumber suara tersebut disekeliling, “braaakk.” tak disangkah akan tumbangnya pohon menerpah kami berdua. Sesaat itu, aku berusaha bangkit dari dedaunan dan tangkai yang rapuh menutupi setengah badan, dengan rasa sakit nyeri dikepala akibat ranting kayu menghantam, sementara hujan masih setia berlanjut. Mencoba menghelah nafas, mencari sosok kekasih yang hilang ditelan tumbangnya pohon.
“Maya....!!” teriakku memanggil.
Namun tak ada jawabnya melainkan suara pohon yang semakin gemuruh melawan angin disertai hujan lebat, seolah meminta untuk menjatuhkan asa. Aku tertunduk menahan dingin yang merasuk, dengan darah mengalir dikepala. Tiba-tiba suara lemahnya nan halus memanggil. Aku terpojok kaget ketika melihat wajahnya yang pucat tak berdaya, tubuhnya tertindis sebuah pohon. Dengan sisa tenaga, berusaha mengankat pohon tersebut, tak peduli akan sulitnya mengontrol tubuh yang gemetar. Setelah itu, aku membawahnya kegubuk untuk meminta pertolongan.
Seusai pemakaman Maya, aku kembali kerumah sakit untuk dirawat lebih lanjut. Seorang wanita dengan pakaian yang serba putih, serta memakai mahkota putih masuk tersenyum tipis kedalam kamar tempatku dirawat.  Ia menyalurkan segelas air putih beserta obat tiga macam rupa.
“Maya...?” tanyaku. Wajahnya berkerut, seolah tak mengerti. Tanpa pikir, aku memeluknya. Tetapi wanita tersebut malah berusaha melepaskan pelukan hangatku. Sang dokter yang melihat pada saat itu juga mencoba memisahkan kami, ia berusaha meyakini bahwa wanita yang aku rangkul bukanlah Maya melainkan seorang suster. Aku merontah-rontah kesurupan, tak terima dengan kenyataan setelah sadarku kembali. Mungkinkah Maya yang sangat kurindukan tak pernah lagi ada tersenyum mewarnai.? Tak tahan dengan melihat aksiku, bak Serigala yang kesurupan. Sang dokterpun mengambil perannya, menyuntik diri ini hingga jatuh lemah tak berdaya.
Aku terbangun dari tidur yang panjang, entah berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menyadarkan diri, setelah dokter menyuntikku dengan obat biusnya. Dengan berusaha memandang disekeliling yang tampak berbeda begitu aneh, seseorang tertawa keras mengarah padaku, tak lama ia bersedih dan kembali lagi tertawa. Aku menghindar secara perlahan, dan tiba-tiba wanita setengah baya berpakaian compang-camping datang menarik lengan tanganku, ia mengajak untuk menemaninya bermain boneka. “Ahh...dasar gila.” bentakku. Tak lama, aku berlari serta bertanya-tanya, dimana aku berada. Tepat didepan ruangan dokter, aku menghentikan langkah, ruangan ini mengalihkan perhatianku. Sayup-sayup percakapan dokter dengan pengunjung pasien memang tak terdengar jelas, namun sedikit gambaran yang kutangkap, tempat dimana aku dititipkan adalah rumah untuk pemulihan jiwa. Ternyata kerontahan yang kupertontongkan selama ini, sejak perginya sang kekasih menganggapku mungkin telah kehilangan akal.
“Benarkah aku gila..?” tanyaku dalam hati, “tidak mungkin, ini tak mungkin terjadi. yah Tuhan, aku tidak bisa  mengendalikan diri bukan berarti aku tak waras, namun sulitku menerima yang kian meninggalkan dan tak akan pernah kembali, aku hanya butuh waktu untuk mengawali dan bernafas tanpanya.
Aku kembali berlari, menerobos keluar pintu gerbang, tak lagi peduli siapa akan menghalangi. Yang jelasnya aku ingin melepaskan diri dari orang-orang aneh yang berada dirumah tersebut, tak ada pilihan lain selain menyeberang jalan raya dari kendaraan yang berlalu lalang, petugas keamanan yang mengejarpun semakin mendekat.
“Braaaakk..” suara itu yang kudengar, tak lama gelap mengelabuhi menutupi semua pandangan, suara kendaraan kian lama semakin mengecil, sampai semuanya tak terdengar. Yang terlintas diingatku, aku berusaha melewati jalan ditengah-tengah kendaraan. Walhasil, berkat kejadian itu, aku bertemu dengannya. Dia! Maya yang kurindukan selama ini. Masih menebarkan senyum manisnya. Menatapnya dengan penuh keyakinan, memastikan bahwa ini bukanlah sekedar mimpi, bukan pula seorang suster atau wanita lainnya. Dari sekian lama aku menunggu dikeheningan malam, dibalik kunang-kunang yang menertawakan, ia memelukku erat dengan menumpahkan segala rindu tertinggal dalam benak. Aku bersamanya, bersanding dengannya dan bersandar dibatu nisan yang tertulis atas namaku sendiri.

Tuesday, 21 April 2015

Salah jalan

SALAH JALAN part 2

Dari hal kecil yang mungkin kita anggap sepeleh, bisa saja menjadi pertimbangan orang menilai diri kita.
       Sekilas aku menyadari, keputusan meninggalkan rumah hanyalah luapan emosi sesaat. Kini diriku menyesali setelah terlanjur berada ditempat ini. Dikota, pusat keramaian malah membuatku serasa gersang. Aku memandang disekeliling, menatap kosong arah jalan kendaraan yang berlalu lalang. Melihat gedung-gedung berjejer, patung pahlawan berdiri tegak ditengah persimpangan. Seolah patung tersebut mengiris pesan, inilah perjuangan. Perjuangan menghadapi dan menaklutkan dunia dalam hidup. Engkau akan dikenang serta dihargai apabila mampu menyelusuri, memberikan ketakjukan warna tersendiri. Para pahlawan mungkin tak menyadari dari hal kecil yang mereka lakukan membela negara merupakan bagian besar dikehidupan masa kini. Apa aku bisa seperti mereka?  atau hanya sebagai batas kekaguman saja.
      
        Aku kembali berusaha mempertegas langkahku, arah mana yang seharusnya aku tempuh. Masih menoleh disekeliling kota, memeras habis akalku untuk mencari sesuap nasi. Seharian aku berjalan kaki dengan mengarah pasrah kebarat menghadap matahari, yang secara perlahan sinarnya bersembunyi tenggelam. Petangpun usai, malam kelabu menyambut. Tak ada lagi panduan mengarah matahari. Sedang perut terus menggonggong meminta jatah makannya. Gedung yang kumuh penuh coretan diary anak jalanan itu membuatku tertarik untuk lebih dekat. Mungkin sebagai tempat yang terbaik bermalam saat ini, walaupun tikus-tikus got menyambutku dengan hangat, aku tak merasa risih, meski sesekali aku memuntahkan angin sebab tidak ada makanan yang bisa kumuntahkan dalam isi perutku. Aku duduk sejenak, tertunduk meratapi. Tubuh yang lemas seakan memaksa menghentikanku mencari jati diri.
Aku mencoba merebahkan tubuh, yang beralaskan kardus. Menatap jauh kelangit. Para hias langit seperti tersenyum dengan perjuanganku saat ini, atau malah menertawakan kesalahanku meninggalkan rumah. Aku tidak tahu, yang jelasnya lembaran baru ini telah terbuka. Jalan yang aku pilih adalah langkah yang harus kupertanggung jawabkan. Dan langkah yang pada awalnya aku anggap sepeleh ini, melibatkan diriku harus berjuang mati-matian. Agar orang-orang yang mempertimbangkan tentang penilaian diriku menyadari bahwa aku tak salah jalan. Bersambung..!!

Saturday, 14 March 2015

Salah jalan

     Aku kesal, serasa kepala meriang, ingin tabokin jidat berkali-kali kebantal, tapi sakitnya belum terasa. Aku coba ketembok, ternyata temboknya...?? temboknya masih utuh, kepalaku yang jadi babak belur, "sial." sakitnya amat terasa.

Sudah sekian kalinya aku dipecundangi oleh adik sendiri, selalu saja keinginannya dituruti kedua orang tua. Sedangkan aku, butuh mikir seratus kali untuk menuruti keinginanku, padahal aku cuma butuh pengertian, pengertian untuk dibelikan mobil, "salahkah..?" pintaku kepada Tuhan. Suatu ketika, tepat ulang tahunku yang ke19, hari yang kunanti terjawab sudah setelah kedua orang tuaku memberikan sebuah kado berbentuk persegi kecil, kuharap kado yang berisi kunci mobil. Hatiku pun berdebar sangat kencang, jemari yang gemetar namun tak sabar membuka kado tersebut. Ahaaa....mataku berkaca-kaca ketika melihat isi dari kado, tanganku makin gemetar, bukan karena terharu bahagia melainkan aku ingin menagis sejadi-jadinya, tapi untuk menutupi umurku yang beranjak dewasa, aku menahan tangis, tangis itu kulampiaskan didalam toilet. "mobil-mobilan." tak terpikir dalam benakku bahwa isi kado tersebut bukanlah sebuah kunci mobil sungguhan, tetapi sebuah mobil-mobilan, ini sungguh menghinaku. "saya benci...saya benci...!!" aku melempar hadiah itu dihadapan ayah dan berlalu pergi ketoilet. aku mengingat betul, kejadian ketika adikku diberikan leptop pada saat ulang tahunnya selang beberapa bulan yang lalu, tidak sama sepertiku. sungguh keadilan tak ingin berpihak kepadaku. Maka pada waktu itu juga, aku memutuskan berinisiatif kabur dari rumah, merantau tepatnya, ketika berhasil nanti akan kutunjukkan kepada Ayah. 

     Sebelum terbit fajar, aku angkat kaki dari rumah seusai meninggalkan sebuah kertas putih diatas mejah kamarku yang tertulis penuh curhatan hati, sengaja kutujuhkan kepada kedua orang tua agar bisa memahami kepergianku. Dikota tempat untuk diriku memulai lembaran baru,  Aku berangkat dengan mobil angkutan beroda empat yang sederhana, tidak untuk Bus yang berAC, ini demi menjaga keuanganku yang menipis. Didalam mobil hanya muat berisikan delapan orang, dua didepan, tiga dikursi tengah dan tiga dibelakang. Aku berada dikursi tengah dan duduk dibagian tengah pula diantara dua orang wanita disebelah kiri kananku, "waww...wanita..?" tapi sayang semuanya genduk dan mungkin sudah berkepala empat, itu yang terlihat dikedua bola mataku. Didalam perjalanan, rasanya ingin muntah, bukan karena sempit dan bau sehingga kepala terasa pening, akan tetapi wanita-wanita tersebut menceritakan pengalamannya diwaktu masih jadi PSK, tak nyangka akan satu mobil dengan bekas pelacur, kerap kali aku dibuainya dipanggil brondong malahan, mereka meminta pin BB, yang ada aku jawab, "cuma nomor togel yang ada, mau..?"

     Tepat jam setengah enam subuh aku sampai dikota, entah apa yang harus dilakukan, aku tidak tahu, aku hanya terus berjalan, menyimak keramaian kota. Tak lamah, perutku keroncongan, butuh energi untuk melanjutkan perjalanan yang tak jelas ini, menyantap nasi kuning dipinggir jalan tak seenak dengan makanan dirumah, buatku kembali berpikir balik kerumah. "Tidak."  aku harus kuat bertahan, tapi badanku makin lemas, baru jam 10 pagi dikota uangku sudah merosok habis, hanya sebuah handpone yang kumiliki, harta satu-satunya, itupun kalau dijual tak cukup untuk ongkos pulang. Sungguh sesal tiada tara, ide untuk melarikan diri bukan malah menenangkan pikiran tapi membuatku jadi sengsara. BERSAMBUNG..!!

Sunday, 8 March 2015

siapa saya..?

 SIAPA SAYA..?

 

 Assalamu alaikum wr.wb.

 

        Hmmm...sesuai dengan judulnya "Siapa saya..?" maka dari itu terlebih dahulu saya akan memperkenalkan diri. Tulisan ini yang menjadi perdana postingan diBlog yang saya buat beberapa jam yang lalu. Langsung saja, saya berasal dari pelosok desa pinggiran laut. "Cieehh..nak pinggiran nih, hitam dong.!" siapa bilang.? saya putih kok, giginya. Sangking terpencilnya kampung saya, banyak orang yang tidak mengenalinya, padahal tanah kelahiran saya itu bisa dijadikan tempat parawisata, soalnya alam yang indah dekat dengan pantai. Tapi sayang, sampai sekarang hanya orang-orang Bali saja yang berkunjung menaburkan abu dipinggir pantai "emang laut pemakaman apa..?" selesai menabur mereka makan makanan berupa sesajian. Curang, tidak bagi-bagi..!! satu hal yang paling  ditunggu dalam ritual ini, pada saat melempar uang koin kelaut. Selepas mereka pergi, kurcaci-kurcaci hitam dengan senyum manis melekat dipipi serta gigi yang silaunya bukan main, saling berlari berebutan uang koin yang dilempar tersebut. Alhasil, koinnya dapat tapi berkarat, goceng lagi, orang Bali itu seakan-akan tidak mengerti perjuangan mengambil uang koin sampai dipedalaman empat dua setengah meter dari dasar laut. Apa susahnya sih sekali-kali lempar koin emas, maunya sih. Tapi kalian tahu kurcaci yang saya maksud, ialah makhluk pribumi dikampung, anak-anak hitam dekil, salah satunya yang nulis artikel ini. Hehehe...itu dulu waktu saya masih kecil, sekarang sudah besar jadi...jadi mandornya ngejar uang koin. Hahaha...bercanda

 

       Oh yah..saya belum memperkenalkan nama, kenalkan nama saya Yusuf priandi, biasa disingkat YP atau di panggil YUPE. Dulu malahan ada yang memanggil saya "Yuuupesek." sambil ia terpeleset, jadinya sekarang orang-orang memanggil saya pesek, padahal saya kan...emang pesek. Itu tidak benar kok, sebenarnya hidung saya mancung...dilihat dari samping. Kalau dilihat dari atas secara saksama, lebih mirip Gusdur lagi ngupil. Bicara soal ngupil, ini merupakan kebiasaan buruk saya, disaat lagi bengong ditoilet bahkan disaat  jalan sendiri, lirik kekanan kiri, "Aman." tengok keatas siapa tahu saja malaikat juga ngintip, ternyata semut yang berbaris didinding menatap dengan curiga, "malu aku malu." jadi ingat Chirisye lagi ngupil, sambil nyanyi lagi.! "hiiiii....jiji tau." biasanya kalau keadaan sudah aman dan terkendali, mulailah jari kelingking berdiri tegak, sedang jari yang lainnya saya lipat. Secara perlahan, jari mungil saya ini mendarat ke Gua gelap dan lebat, mencari sasaran lahar yang membeku. Duuuuhh...asyiknya, bagaikan Kura-kura terbang bebas diudara.


      Saya ini adalah anak perantau dari desa ke desa, "Jualan obat." bukan, maksud saya dari desa ke kota, "jualan nasib." iya betul. Rencananya saya kekota mencari pekerjaan yang lebih layak sesuai dengan Akta kelahiran, Kartu keluarga dan sekolah terakhir S3, sayang dong kalau nganggur dilemari berdebu. Saya mencoba masukkan lamaran disebuah perusahaan besar, dan tidak diraguhkan lagi, dengan mantap saya diterimah diperusahaan tersebut, sebagai jasa tukang parkir. "kok tukang parkir, bukannya S3..?" ia, S3 (Sekolah dasar kelas 3). Sekian dan terimah kasih.